Disusun oleh:

Tolip Aliarto / S 200080011

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Evaluasi meruapakan salah satu tugas guru untuk memberikan nilai atau kegiatan mengukur kemampuan para peserta didik. Dimana hasil tersebut sudah memenuhi standar yang telah ditentukan ataukah belum. Namun dalam sebuah pengambilan nilai seorang guru tidak harus berpatokan mutlak pada pekerjaan peserta didik yang secara tertulis saja, karena dalam setiap mata pelajaran dan dalam standar komtetensi serta kompetensi dasar mempunyai capaian nilai tersendiri.

Evaluasi pada dasarnya adalah memberikan pertimbangan atau harga nilai berdasarkan criteria tertentu untuk mendapatkan evaluasi yang meyakinkan dan objektif, dimulai dari informasi-informasi kuantitatif dan kualitatif. Instrumennya (alatnya) harus cukup sahih, kukuh, praktis dan jujur. Data yang dikumpulkan dari pengadministrasian instrument itu hendaklah diolah dengan tepat dan digambarkan pemakaiannya (Djamarah, 2000: 207).

Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian. (test, measurement,and assessment). Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan (Djemari Mardapi, 2008: 67). Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Objek ini bisa berupa kemampuan peserta didik, sikap, minat, maupun motivasi.

Selanjutnya hasil belajar seorang siswa merupakan kemampuan yang dimiliki siswa dalam menerima pengalaman belajarnya, dan menjadi evaluasi bagi seorang guru. Seberapa kemampuan dan penguasaan materi setiap siswanya selama proses belajar mengajar di kelasnya. Tes yang diberikan oleh seorang guru juga memiliki beberapa aspek yang harus diterima oleh siswa. Salah satu tes hasil belajar tersebut, misalnya aspek kognitif. Aspek ini merupakan jenis tes yang berhubungan dengan hasil belajar intelektual yang meliputi beberapa aspek pengetahuan, yaitu pengetahuan pemahaman, hafalan, komprehensi, penerapan aplikasi, analisis, dan evaluasi.

Evaluasi pencapaian belajar siswa adalah salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi setiap guru atau pengajar. Dalam makalah disini akan ditekankan pada penerapan model soal pilihan ganda dalam pengembangan hasil tes belajar kognitif. Hasil belajar yang berupa tingkat kognotif berurusan dengan kemampuan berpikir dan penalaran, maka tes yang tepat untuk seorang siswa adalah yang dapat mengungkap hasil pemikiran dan penalaran. Tujuan belajar kognitif sendiri melibatkan siswa ke dalam proses berpikir seperti mengingat, memahami, menganalisis, menghubungkan, dan memecahkan masalah.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang di atas makalah ini akan membahas 2 permasalahan.

  1. Bagaimana penerapan model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama?
  2. Bagaimana sisi positif atau negatif dalam penerapan model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama?

1.3 Tujuan

Makalah ini memiliki 2 tujuan sesuai dengan perumusan masalah yang telah disusun.

  1. Menerapkan model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran Drama.
  2. Mendiskripsikan sisi positif dan sisi negatif dari model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama.

1.4 Manfaat

Manfaat dalam makalah  ini, diharapkan dapat menyusun dan menerapkan model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran dramadengan aspek  kognitif. Serta dapat mengetahui sisi positif dan sisi negative dalam menerapkan model soal pilihan ganda dengan menggunakan aspek kognitif.

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Beberapa makalah yang membahas tentang pengembangan tes hasil belajar kognitif. makalah yang dilakukan oleh Jumartini Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pada tulisan ini dibahas tentang tingkat kemampuan hasil belajar kognitif, yang meliputi, pengetahuan hafalan, pemahaman atau komprehensif, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Serta menggunakan cara untuk mengetahui kemampuan kognitif tersebut, yaitu dengan beberapa model tes pilihan ganda,.

Pembahasan tentang tes hasil belajar kognitif dilakukan oleh Erwitian Marya, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tulisan ini juga membahasa tentang cara mengetahui kemampuan kognitif, dengan beberapa model tes pilihan ganda, melengkapi pilihan, analisis hubungan antar hal, analisis kasus, serta melengkapi pemakaian diagram.

2.2 Kerangka Teori

2.2.1 Pengertian

Tes hasil belajar adalah tes yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya dalam jangka waktu tertentu (Purwanto, 1991: 33).

Kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak), menurut Bloom (dalam Sudjiono, 1996: 49-50) adalah segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Serta ada enam jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang yang rendah sampai yang tertinggi, antara lain: pengetahuan hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan penilaian.

2.2.2 Kawasan Kognitif

Kawasan Kognitif menurut Bloom (dalam situs internet, Domain Pendidikan menurut “Benjamin Bloom” « Blognya -dhesiana-.ht) Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bias diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini tediri dari:

  1. 1.      Pengetahuan (Knowledge).

Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom. Seringkali disebut juga aspek ingatan. Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah-istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya.

Pengetahuan ini juga digolongkan menjadi:

  1. Mengetahui secara khusus:
  2. Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol, baik berbentuk verbal maupun non verbal.
  3. Mengetahui fakta tertentu misalnya mengingat kembali tanggal, peristiwa, orang tempat, sumber informasi, kejadian masa lalu, kebudayaan masyarakat tertentu, dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu.
  4. Mengetahui tentang cara melakukan sesuatu/proses:
  5. Mengetahui kebiasaan atau cara menyampaikan ide atau pengalaman.
  6. Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses, arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan.
  7. Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian, misalnya mengetahui kelas, kelompok, perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu, atau memproses sesuatu.
  8. Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta, prinsip, pendapat atau perlakuan.
  9. Mengetahui metodologi, yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari, menemukan atau menyelesaikan masalah.
  10. Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu, yaitu ide, bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran.
  11. Mengetahui prinsip dan generalisasi.
  12. Mengetahui teori dan struktur.

 

  1. 2.      Pemahaman (Comprehension)

Kemampuan ini umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat dimanfaatkan isinya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain.

 

Dalam tahap pemahaman ini memiliki beberapa tingkatan yaitu:

  1. Translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar, bagan atau grafik.
  2. Interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol, baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Seseorang dikatakan telah dapat menginterpretasikan suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan, memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”.
  3. Ekstrapolasi yaitu melihat kecenderungan, arah atau kelanjutan dari suatu temuan. Misalnya siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2, 3, 5, 7, 11, dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. Untuk bisa seperti itu, terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima, maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut.

 

  1. 3.      Penerapan (application)

Penerapan adalah menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Contoh, dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika, mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok untuk alat angkutan tersebut. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Bagi mereka, ingat kuda ingat transportasi. Dengan pemahaman demikian, maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.

  1. 4.      Penguraian (analysis)

Penguraian adalah menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang mendukung suatu pernyataan.

Kemampuan analisis menurut Bloom secara rinci dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. 1.      Menganalisis unsur:
  2. Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan.
  3. Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.
  4. Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif.
  5. Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.
  6. Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya.
  1. 2.      Menganalisis hubungan:
  2. Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide.
  3. Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan.
  4. Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya.
  5. Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada.
  6. Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak.
  7. Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen.
  8. Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis.
  9. 3.      Menganalisis prinsip-prinsip organisasi:
  10. Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat.
  11. Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya.
  12. Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis, sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya.
  13. Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda.
  1. 5.      Memadukan (Synthesis).

Adalah menggabungkan, meramu, atau merangkai beberapa informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Ciri dari kemampuan ini adalah kemampuan berfikir induktif. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru.

  1. 6.      Penilaian (Evaluation).

Adalah mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk, atau bermanfaat-tak bermanfaat berdasarkan kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif.

Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan, yaitu :

  1. Pembenaran berdasarkan kriteria internal, yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsur-unsur yang ada di dalam objek yang diamati.
  2. 2.      Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal, yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati. Misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai.

2.2.3   Unsur-unsur Drama

Mengenal unsur intristik drama tidak hanya penting bagi orang ingin mengarang drama, tetapi juga bagi pemain drama dan sutradara. Naskah drama merupakan titik tolak suatu pementasan. Itulah hal yang mendorong pemain dan sutradara sangat berkepentingan menangkap kandungan unsur intristik drama.

Naskah drama biasanya mengandung beberapa unsur penting, seperti pelaku (tokoh), karakter, tema yang ditampilkan dengan media dialog, plot (alur cerita) yang di dalamnya terkandung konflik yang membangun respon emosional penonton, keterangan lakuan (acting / leramagung) dan keterangan latar (Setyorini, 2008: 14).

Sebelum menulis naskah drama, perlu dipahami struktur yang membangun naskah drama. Struktur naskah drama dalam Suwandi (2007: 21) itu meliputi:

a. Plot/alur

Plot atau alur adalah jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan.

b. Penokohan dan perwatakan

Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Penokohan merupakan susunan tokoh-tokoh yang berperan dalam drama. Selanjutnya, tokoh-tokoh itu dijelaskan keadaan fisik dan psikisnya sehingga akan memiliki watak atau karakter yang berbeda-beda.

c. Dialog (percakapan)

Ciri khas naskah drama adalah naskah itu berbentuk percakapan atau dialog. Dialog dalam naskah drama menggunakan ragam bahasa yang komunikatif sebagai tiruan bahasa sehari-hari bukan ragam bahasa tulis.

d. Setting (tempat, waktu dan suasana)

Setting (latar cerita) adalah penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah cerita.

e. Tema (dasar cerita)

Tema merupakan gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita dalam drama.Tema dikembangkan melalui alur dramatik dalam plot melalui tokoh-tokoh antagonis dan protagonis dengan perwatakan yang berlawanan sehingga memungkinkan munculnya konflik di antara keduanya.

f. Amanat atau pesan pengarang

Sadar atau tidak sadar pengarang naskah drama pasti menyampaikan sebuah pesan tertentu dalam karyanya. Pesan itu dapat tersirat dan tersurat. Pembaca yang jeli akan mampu mencari pesan yang terkandung dalam naskah drama. Pesan dapat disampaikan melalui percakapan antartokoh atau perilaku setiap tokoh.

g. Petunjuk teknis/teks samping

Dalam naskah drama diperlukan petunjuk teknis atau teks samping yang sangat diperlukan apabila naskah drama itu akan dipentaskan. Petunjuk samping itu berguna untuk petunjuk teknis tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, musik, keluar masuk tokoh, keras lemahnya dialog, warna suara, dan sebagainya.

BAB III

WUJUD INSTRUMEN

3.1 Contoh soal tingkat kemampuan kognitif

  1. 1.      Contoh Soal pengetahuan

Pilihlah salah satu jawaban yang tepat dengan cara memberi tanda silang (X) pada salah satu huruf di lembar jawaban!

  1. Salah satu struktur dalam sebuah naskah drama adalah …
  2. Plot atau alur
  3. Setting
  4. Penokohan
  5. Tema
  1.  Ciri khas dalam sebuah naskah drama adalah…
  2. Berbentuk bait
  3. Berbentuk dialog
  4. Berbentuk paragrap
  5. Berbentuk narasi
  1. 2.      Contoh soal pemahaman

Pilihlah salah satu jawaban yang tepat dengan cara memberi tanda silang (X) pada salah satu huruf di lembar jawaban!

  1. Di bawah ini yang merupakan arti dari setting adalah…
  2. jalinan cerita atau kerangka cerita dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh atau lebih yang saling berlawanan
  3. susunan tokoh-tokoh yang berperan dalam drama.
  4. penggambaran waktu, tempat, dan suasana terjadinya sebuah cerita.
  5. gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita dalam drama
  1. 3.   Contoh soal penerapan

 

Pilihlah salah satu jawaban yang tepat dengan cara memberi tanda silang (X) pada salah satu huruf di lembar jawaban!

  1. Seorang pemeran drama saat di panggung lupa dengan dialognya, yang harus ia lakukan adalah…
  2. Diam
  3. Meninggalkan panggung
  4. Improvisasi
  5. Menangis
  1. Jika kalian seorang pemeran drama, yang harus dikuasai adalah…
  2. Menguasai penataan panggung
  3. Menguasai karakternya
  4. Menguasai kostum yang digunakan
  5. Menguasai ilustrasi
  1. 4.      Contoh soal analisis

Pilihlah salah satu jawaban yang tepat dengan cara member tanda silang (X) pada salah satu huruf di lembar jawaban!

  1. Koswara          : Sejak aku pulang tadi malam tak sedikit pun engkau gembira.

Rini                    : Engkau dan aku tentu saja berbeda. Di sini dalam serba kekurangan. Di sana  dalam sorga kenangan berjalan-jalan di bawah rembulan ….

Koswara          : Sejak Nona Zahra di sini tak habis-habisnya engkau menyindir   aku.

Rini                    : Katakan saja, “pucuk dicinta ulam tiba” (tertawa mengejek). Tidakkah engkau gembira bertemu lagi dengan nona yang manis itu? Dan sekali ini, tidak disertai pula! Tentu banyak yang kaucurahkan kepadanya.

Koswara             : Kenalanku perempuan ada beberapa orang dulu. Tidak pernah engkau cemburu sekeras itu!

Rini                   : Sikapmu pada yang lain itu berbeda.

Sikap Rini yang tampak dalam adegan penggalan drama tersebut adalah ….

a. tidak gembira                      c. pencemburu

b. suka menyindir                    d. suka mengejek

7. Hendra : Terima kasih, Dik.

Erwin   : Sebenarnya, sudah lama aku ingin mengajakmu ke kota, tapi mengingat ibuku

masih sakit, ya, kutunda sampai hari ini.

Hendra : Ya, itulah Dik, makanya, aku belum mau melangkah ke luar kota. Sekarang    ibuku sudah sehat dan sudah mulai bekerja lagi. Kapan kita berangkat?

Erwin  : Seminggu lagi? Bagaimana?

Hendra : Baiklah aku nanti minta izin kepada ibuku dulu.

Isi penggalan drama di atas adalah ….

a. Ibu Hendra sedang sakit dan Hendra harus menunggu

b. Erwin ingin mengajak Hendra ke kota

c. Hendra merasa kecewa karena ibunya sakit

d. Erwin menengok Hendra karena ibunya sakit

  1. 5.      Contoh soal sintesis

Pilihlah salah satu jawaban yang tepat dengan cara member tanda silang (X) pada salah satu huruf di lembar jawaban!

  1. Mampu memainkan peran. Dapat mengetahui watak pelaku yang harus dibawakan. Hal tersebut merupakan tugas dari seorang…
  2. Sutradara
  3. Actor
  4. Penonton
  5. Penaata panggung
  1. 6.      Contoh soal kemampuan evaluasi

Pilihlah salah satu jawaban yang tepat dengan cara member tanda silang (X) pada salah satu huruf di lembar jawaban!

  1. Karya sastra yang mempertimbangkan sifat atau budi pekerti manusia dengan gerak dan percakapan yang dipentaskan, adalah …
  2. Cerpen
  3. Novel
  4. Puisi
  5. drama

 

 

3.2  Deskripsi Hasil

Hasil dari wujud instrument tentang ‘Penerapan Model Soal Pilihan Ganda dalam Evaluasi Pembelajaran Drama’ dengan menggunakan aspek kognitif, dalam makalah ini di sajikan atau diberikan contoh soal berjumlah Sembilan. Jumlah Sembilan soal tersebut sudah mencakup enam tingkatan dari aspek kognitif. Dimulai dari contoh soal pengetahuan ( dua soal), contoh soal pemahaman ( satu soal), contoh soal penerapan ( dua soal), contoh soal analisis ( dua soal), contoh soal sintesis ( satu soal), contoh soal evaluasi ( satu soal).

Penerapan pada contoh soal tentang pengetahuan siswa di tuntut untuk bisa mengetahui tentang pengetahuan drama, dari contoh soal tersebut siswa harus mampu mengetahui struktur drama dan cirri-ciri drama. Penerapan contoh soal yang kedua, yaitu tentang  pemahaman. Di sini siswa dituntut untuk memahami arti dari masing-masing struktur dalam sebuah drama. Penerapan yang ketiga, yaitu tentang penerapan. Di sini siswa dituntut untuk mengetahui tugas-tugas seorang pemeran drama. Misalnya, dalam penerapan contoh tersebut siswa harus bisa mengetahui tugas seorang pemeran drama saat di panggung lupa akan dialognya, yaitu dengan melakukan improvisasi. Selanjutnya, siswa dituntut untuk bisa mengetahui tugas seorang pemeran drama, yaitu harus mengetahui karakter masing-masing yang dibawakan seorang pemeran. Penerapan yang keempat, yaitu analisis. Di sini siswa dituntut untuk bisa menganalisis karakter atau sifat tokoh yang ada dalam teks drama, serta harus bisa menganalisis isi dalam sebuah naskah drama yang telah disajikan. Penerapan yang kelima, yaitu sintesis. Di sini siswa dituntut bisa menemukan jawaban dari ilustrasi yang ada. Penerapan yang terakhir, yaitu evaluasi. Dalam penerapan contoh di atas siswa harus bisa memahami soal, sebagai evaluasi materi yang dikuasainya. Misalnya, dalam contoh soal disuguhkan sebuah defines, seorang siswa harus mengetahui arti definisi tersebut, untuk menemukan pilihan-pilihan yang telah ditentukan.

 

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom. Seringkali disebut juga aspek ingatan. Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah-istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya.

Kemampuan pemahaman umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat dimanfaatkan isinya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain.

Penerapan adalah menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Contoh, dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika, mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok untuk alat angkutan tersebut. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Bagi mereka, ingat kuda ingat transportasi. Dengan pemahaman demikian, maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.

Penguraian adalah menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang mendukung suatu pernyataan.

Adalah mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk, atau bermanfaat-tak bermanfaat berdasarkan kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif.

Memadukan Adalah menggabungkan, meramu, atau merangkai beberapa informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Ciri dari kemampuan ini adalah kemampuan berfikir induktif. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru.

Evaluasi Adalah mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk, atau bermanfaat-tak bermanfaat berdasarkan kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif.

Dari teori di atas, dalam penerapan model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama, ada beberapa keunggulan dan kelemahan atau sisi positif dan sisi negatifnya. Keunggulan dan kelemahan tersebut dapat dilihat dari penerapan soal yang telah dibuat.

Keunggulan dari model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama adalah dapat mengukur segala level tujuan. Menuntut kerja responden secara minimal. Penskoran objektif. Dapat dikonstruksi sesuai kemampuan responden. memungkinkan dilakukan analisis butir. Tingkat kesulitan dapat dikendalikan. Umumnya memiliki reliabilitas yang memuaskan.

Kelemahan atau sisi negative dari model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama adalah, pembuatan sulit dan memakan waktu banyak dan tenaga. Cenderung mengukur aspek ingatan. Kemungkinan jawaban benar semata-mata karena tebakan.

Selanjutnya dari teori tersebut, dengan enam tingkatan dalam aspek kognitif ada salah satu kemungkinan yang kurang tepat untuk digunakan dalam penerapan model soal berbentuk pilihan ganda. Tingkatan tersebut adalah penerapan atau application. Pengetahuan aplikasi ini lebih tepat dan lebih mudah diukur dengan tes esai yang berbentuk uraian (essay test) daripada dengan tes objektif atau pilihan ganda. Karena dalam pembahasan di sini berupa pembelajaran drama, selain dengan tes esai dalam pengetahuan penerapan ini, akan lebih tepat lagi dengan model praktek. Di sini siswa yang dituntut untuk memerankan sebuah drama akan lebih memahami dan mendalami dalam model penerapan atau application.

 

BAB V

SIMPULAN

 

Berdasarkan pembahasan di atas, yaitu penerapan model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama dapat ditarik beberapa kesimpulan.

  1. Hasil dari wujud instrument tentang ‘Penerapan Model Soal Pilihan Ganda dalam Evaluasi Pembelajaran Drama’ dengan menggunakan aspek kognitif, dalam pembahasan ini di sajikan contoh soal berjumlah Sembilan. Jumlah Sembilan soal tersebut sudah mencakup enam tingkatan dari aspek kognitif. Dimulai dari contoh soal pengetahuan ( dua soal), contoh soal pemahaman ( satu soal), contoh soal penerapan ( dua soal), contoh soal analisis ( dua soal), contoh soal sintesis ( satu soal), contoh soal evaluasi ( satu soal).
  2. Keunggulan dari model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama adalah dapat mengukur segala level tujuan. Menuntut kerja responden secara minimal. Penskoran objektif. Dapat dikonstruksi sesuai kemampuan responden. memungkinkan dilakukan analisis butir. Tingkat kesulitan dapat dikendalikan. Umumnya memiliki reliabilitas yang memuaskan. Kelemahan atau sisi negative dari model soal pilihan ganda dalam evaluasi pembelajaran drama adalah, pembuatan sulit dan memakan waktu banyak dan tenaga. Cenderung mengukur aspek ingatan. Kemungkinan jawaban benar semata-mata karena tebakan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Djemari, Mardapi.2008. Teknik penyusunan instrumen tes dan non tes. Yogyakarta: Mitra cendekia.

Purwanto, Ngalim. 1994. Prinsip-prinsip dan teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Setyorini. 2008. Bahasa Indonesia. Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

Sudjiono, Anas. 1996. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Suwandi, Sarwiji. 2007. Bahasa Kebanggaanku. Untuk Kelas VIII.  Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

www. Domain Pendidikan menurut “Benjamin Bloom” « Blognya -dhesiana-.htm.